logo

Friday 25th of April 2014

Untuk Mendukung Kami

Rek. BCA
8005089154
a/n. BUDIANTO OR JULIANA WONO















Mobile Version | Standard Version

Home >> Dhamma Articles >> Artikel Buddhis >> Manfaat Melatih Kesabaran
Manfaat Melatih Kesabaran PDF Print E-mail
Written by Hasan   
Saturday, 27 April 2013 03:44

Namo Tassa Bhagavato Arahato Samm?sambuddhassa

Manfaat Melatih Kesabaran

Khant? parama? tapo t?tikkh?
Melatih kesabaran adalah cara bertapa yang tertinggi
(Ov?dap??imokkhadip??h?)



Latihan untuk membina diri kita sesungguhnya adalah latihan dalam keseharian. Membina diri bukan sesuatu yang dimengerti bahwa; harus dilatih di tempat ibadah atau pada saat tertentu. Justru dalam keseharian, kita dapat meningkatkan pembinaan terhadap diri kita masing-masing. Salah satu pesan yang sangat penting yang pernah diungkapkan di hadapan 1250 orang bhikkhu yang telah mencapai tingkat kesucian, adalah kesabaran. Sesungguhnya kesabaran adalah latihan untuk membina diri yang paling tinggi. Kalau kita berhadapan atau mengalami keadaan yang menyenangkan di sekitar kita, seperti melihat orang lain berbuat baik, berkata ramah, tidak membenci, saling menyayangi, maka kita dapat bersikap sabar.

Tetapi menurut ajaran Sang Buddha, menghadapi keadaan yang menyenangkan bukan sikap sabar, justru kesabaran adalah sikap yang tenang dengan dilandasi sikap yang benar. Pada saat menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan, seperti melihat orang lain yang berbuat jahat kepada kita, mencela, menghina, memfitnah, atau melakukan perbuatan buruk apa saja kepada kita, sesungguhnya itu merupakan sikap yang baik dalam melatih kesabaran, untuk melatih kesabaran kalau menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan. Kalau ada masalah timbul, biasanya muncul kemarahan, dendam, kebencian, saat itulah betapa rapuhnya batin kita menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan, menghadapi orang yang menyulitkan kita. Kalau timbul emosi sikap yang didorong oleh kemarahan, sesungguhnya sikap seperti itu sangat merugikan kita sendiri. Tampak dengan jelas tidak ada ketahanan mental dalam diri kita untuk menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan.

Ada dua macam kesabaran:
1.    Yang pertama, kesabaran yang paling rendah
Bersabar dengan hal yang sederhana, dengan kondisi yang kecil, seperti: menghadapi udara yang panas, makanan yang tidak sesuai, menunggu agak lama, bersabar bila fisik sedang sakit dan bersabar ketika sedang mengemudikan mobil di jalan. Dalam menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan itu, akan memungkinkan kita untuk melatih kesabaran yang lebih tinggi.
2.    Yang kedua, kesabaran yang lebih tinggi
Apakah kesabaran yang lebih tinggi itu? Yaitu bersabar terhadap masalah yang lebih besar. Dalam Dhammapada (1:4) Sang Buddha bersabda:
”Mereka yang tidak memendam di dalam dirinya (dan tidak berpikir): ’Ia telah menyiksa diriku, ia telah memukuli tubuhku, ia telah mengalahkan aku dan merampas barang-barangku’, maka kebencian akan lenyap dari batinnya.” Inilah kesabaran yang paling tinggi. Jadi ketika kita disiksa, dipukul, dihina, dicela, dimarahi, namun kita tetap sabar dan tidak membalasnya. Mengapa demikian? Karena kita tahu bahwa; kemarahan dan kebencian apabila muncul dalam batin kita tentu akan merugikan diri kita sendiri dan orang lain.
Kesabaran yang lebih tinggi ini amat sulit. Justru itulah merupakan latihan kesabaran yang tertinggi. Merupakan guru kesabaran kita, kalau ada orang yang mengganggu kita, menghancurkan dan menjelekkan kita. Kalau kita menghadapi dengan emosi yang meluap, sikap itu tidak menyelesaikan masalah, tetapi akan membuat masalah. Kebencian, dendam, dan sakit hati bukan menunjukkan keperkasaan, tetapi sebaliknya, menunjukkan kelemahan mental.

Bagi orang yang melatih kesabaran akan memperoleh lima (5) manfaat:
1.    Ia akan disenangi oleh orang lain;
2.    Ia akan terhindar dari bahaya;
3.    Ia akan terhindar dari kesalahan;
4.    Pada saat ia mau meninggal dunia, ia memiliki pikiran yang tenang;
5.    Setelah meninggal dunia ia akan terlahir di alam bahagia.


Sekarang bagaimana melatih kesabaran itu? Ada dua macam cara melatih kesabaran, yaitu:
1.    Yang pertama, menyadari bahwa segala sesuatu di alam semesta itu tidak kekal, tidak abadi, berubah setiap saat. Kesulitan apapun yang kita hadapi tidaklah kekal dan tidak selamanya akan mencengkeram kita. Masalah yang menyulitkan kita datang sebentar kemudian akan berlalu. Menyadari perubahan terhadap sesuatu masalah membuat kita bertahan. Jadi, tidak ada alasan untuk patah semangat.
2.    Yang kedua adalah: kesulitan yang kita alami janganlah kita hadapi dengan berpikir biasa. Apakah berpikir biasa itu? Kita selalu berpikir: ia telah menyiksa diriku, ia telah memukuli tubuhku, ia telah mengalahkan aku dan telah merampas barang-barangku, ia telah benci kepadaku dan ia tidak simpatik kepadaku. Inilah berpikir biasa. Timbul ingin membalas kepada mereka, sehingga hidup tidak tenteram. Berpikirlah secara Dhamma, bahwa kesulitan yang terjadi adalah akibat dari perbuatan kita sendiri. Kesulitan dan segala macam kesalahan bukan dibuat oleh para dewa atau makhluk lain, tetapi oleh akibat dari perbuatan diri sendiri. Kalau tidak dari kita, tidak mungkin masalah menimpa kita. Kalau kita berpikir seperti itu, tidak ada tempat untuk membalas dendam. Justru melihat orang lain berperilaku buruk kepada kita, malah kasihan, karena akan menghasilkan penderitaan.

Dengan dua landasan pengertian inilah kita membangun kesabaran kita, memperkuat daya tahan mental kita dalam menghadapi kesulitan yang mengganggu kita. Dengan cara inilah kita melatih kesabaran. Kita berusaha tenang, batin tidak tergoyahkan meskipun masalah yang datang silih berganti. Kita harus pandai menggunakan kesempatan dalam keseharian, meningkatkan kesabaran kita. Kesabaran sangat dibutuhkan dimanapun kita tinggal. Seseorang yang tidak cukup memiliki ketahanan mental, ia akan mudah terpengaruh melakukan perbuatan buruk. Menurut mereka hal itu akan menghasilkan materi. Namun orang yang memiliki ketahanan mental, tidak akan tertarik dengan perilaku buruk, ia bisa bertahan, ia dapat mengalihkan dirinya dari perbuatan buruk. Karena punya ketahanan mental, tidak tergiur dengan perbuatan buruk walaupun dapat keuntungan besar. Oleh karena itulah kesabaran merupakan kunci keberhasilan melakukan perbuatan baik. Kejahatan akan merugikan makhluk lain dan juga si pembuatnya sendiri. Demikian juga perbuatan baik akan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Memang perbuatan yang tidak terpuji, mudah sekali menggiurkan kita, menarik banyak orang karena memberikan manfaat yang tiba-tiba, tidak perlu sabar. Kemudian orang banyak melakukan perbuatan buruk.

Marilah kita melatih kesabaran. Dengan melatih kesabaran kita akan selalu memilih perbuatan yang baik. Dengan melatih kesabaran sekuat tenaga, kita menghindari perbuatan buruk dan perbuatan yang tidak sehat. Dengan keuletan dan sekuat tenaga, kita melakukan perbuatan baik dan berguna bagi masyarakat, keluarga, dan diri sendiri.
Memang perbuatan buruk akan memberikan kenikmatan yang spontan, tetapi kalau perbuatan itu sudah masak, akan berakibat buruk pada kita. Namun sebaliknya, perbuatan baik kalau dilakukan akan berguna bagi orang lain dan diri sendiri.


Marilah kita menggunakan kesempatan untuk meningkatkan kualitas batin kita, meningkatkan kesabaran dan daya tahan mental. Marilah kita mengisi dengan hal-hal yang berguna dengan selalu berbuat baik dan meninggalkan perbuatan buruk serta bersihkan kekotoran batin yang ada pada batin kita. Dengan demikian, kita akan menemukan kebahagiaan dalam kondisi apapun yang datang menyongsong kita dengan ketahanan mental. Hiduplah dengan penuh kesabaran, sehingga hidup kita akan selalu aman, damai, dan bahagia.

Oleh: Y.M. Bhikkhu Gunasilo (04 April 2010)

 

sumber

 

anda tidak diperbolehkan posting

free counters
img_0230-200.jpg
We have 30 guests online

Powered By Joomla! Developed By Butos. Designed by: ThemZa videos ntc hosting Valid XHTML and CSS.