logo

Saturday 19th of April 2014

Untuk Mendukung Kami

Rek. BCA
8005089154
a/n. BUDIANTO OR JULIANA WONO















Mobile Version | Standard Version

Home >> Dhamma Articles >> Artikel Buddhis >> Anicca (ketidakkekalan)
Anicca (ketidakkekalan) PDF Print E-mail
Monday, 27 September 2010 19:03

Sebuah Pemahaman Tentang Anicca (ketidakkekalan)


Kata Anicca adalah kata yang umum di setiap negara Buddhis. Ini berarti ketidakkekalan. Kata lain yang sering bersama-sama digunakan oleh Buddha adalah "viparinamadhammo" - "sifat perubahan" yang berarti perubahan adalah konsep mendasar dalam Buddhisme. Ketidakkekalan atau tanpa realisasi itu tidak akan pernah ada apapun benar wawasan bukan melalui mana kita bisa melihat segala sesuatu sebagaimana yang sebenarnya.

Sang Buddha mengajarkan bahwa kita hanya bisa memahami Dukkha dan Anatta melalui pemahaman tentang Anicca. Namun Sang Buddha telah memilih Dukkha sebagai titik pusat dari realisasi kebenaran. Pilihan ini adalah metode yang sangat terampil menjelaskan kenyataan hidup.

Ini adalah pengetahuan tentang Anicca, ketidakkekalan, yang menyembuhkan Dukkha, penderitaan. Dengan memahami Anicca, kita mengerti bahwa tidak ada entitas permanen yang mendasari hidup kita (Anatta).

Kurangnya pemahaman yang benar pasti akan menyesatkan diri kita di dalam lautan pikiran dengan persepsi menyimpang, pikiran tercemar dan cara pandang yang tidak benar (Sanna, citta, ditthivipallasa). Kegagalan untuk memahami kebenaran ini, Anicca, juga akan meninggalkan satu pandangan yang salah tentang diri atau jiwa yang secara tidak langsung menjerumuskan dan mendasari setiap pandangan yang salah.

Perasaan kecewa terhadap hal-hal yang sepele, rasa putus asa, dan frustrasi dalam kehidupan sehari-hari kita sering berasal dari ketidaktahuan akan hukum alam, yakni perubahan ataupun ketidakkekalan. Oleh sebab itu sangatlah penting bagi masing-masing dan setiap dari kita untuk memahami sifat perubahan atau ketidakkekalan dalam rangka berani menghadapi masalah dalam kehidupan sehari-hari; untuk belajar cara berkompromi dengan satu sama lain, dalam rangka mengurangi ketegangan yang tidak perlu dalam membina suatu hubungan;dalam upaya untuk selaras dengan alam dan hidup bahagia; dan dalam rangka untuk membuat diri kita lebih dan lebih bijak seiring berjalannya waktu.

Karakteristik Dunia

Ingatlah bahwa karakteristik adalah sesuatu yang selalu berhubungan dengan sesuatu yang lain yang ada dalam kehidupan nyata. Hal ini dapat memberitahu kita tentang sesuatu yang berhubungan dengan karakteristik itu sendiri. Ambil api dan panas, misalnya sebagai contoh. Panas adalah karakteristik api, bukan air, karena secara alami panas api selalu terhubung dengan api. Di sisi lain, panas air tergantung pada faktor-faktor eksternal seperti kompor listrik, panas matahari dan sebagainya. Jadi panas adalah hal yang wajar untuk api, bukan air. Untuk hal inilah Sang Buddha menjabarkan arti dari istilah karakteristik (lakkhana) untuk menjelaskan sifat dari keberadaan kita. Ketidakkekalan atau perubahan adalah sesuatu yang umum dan alami untuk kita semua - kaya dan miskin, berpendidikan dan tidak berpendidikan, biarawan dan awam, penguasa dan rakya biasa, demokrat dan otoriter, majikan dan karyawan, orang yang berpikiran religius dan sebaliknya - pada kenyataannya, seluruh yang muncul ataupun berwujud termasuk keberadaan benda mati. Itulah sebabnya perubahan merupakan karakteristik dari kehidupan. Ini menjelaskan bagaimana kehidupan ada dan berkerja.

Bagaimana Buddha Mengajarkan.

Buddha tidak menciptakan perubahan atau ketidakkekalan. Itu ada di masanya, itu ada sekarang, dan itu akan selalu ada. Tetapi Buddha yang membuat semuanya menjadi jelas bagi kita, Buddha mengajarkan kita untuk bisa hidup dengan harmoni dengan alam: sifat yang alami yang terdapat pada manusia, dalam hal-hal di sekitar kita, sifat alami dari benda ataupun keadaan yang kadang-kadang ternyata dengan alami mengalami perubahan dengan caranya sendiri berbanding terbalik dengan apa yang kita inginkan. Perubahan adalah sebuah fakta dan hal tersebut didukung oleh pengamatan langsung langsung. Buddha menggunakan kata "Dhamma" untuk menggambarkan perubahan -. Dhamma di sini berarti secara alami. Buddha mengungkapkan pengamatan ini kepada hal-hal yang lebih sederhana "unsur-unsur seperti datang dan pergi, timbul dan tenggelam" (uppajjhitva nirujjhanti).

Buddha menggunakan metode analisis dan sintesis untuk makhluk yang belum tercerahkan seperti kita. Buddha menganalisis manusia atau yang disebut kepribadian dan kemudian membaginya menjadi lima kelompok (panca khanda). Buddha menyadarkan kita untuk mengamati satu per satu dari kelima khanda tersebut  apakah berdiri diam atau terus berubah sepanjang waktu. Dengan analisis yang komprehensif, kita dapat melihat bahwa panca khanda mengalir tanpa henti, mengalami perubahan tanpa henti, sepanjang waktu. Ini adalah pelajaran pertama yang diajarkan kepada sekelompok lima petapa kemudian dikenal sebagai pancavaggya di Saranath, Varanasi di India.

Seringkali Sang Buddha menggunakan bentuk-bentuk serupa lainnya sebagai bahan analisis tetapi berbeda dalam jumlah. Sebagai contoh, Buddha membagi dunia untuk dua komponen mental dan fenomena fisik (namarupa), atau menjadi enam bagian: mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran bersama-sama dengan hal-hal / benda-benda yang memiliki keterkaitan menjadi delapan belas elemen (dhatu). Dengan menyadarkan  kita untuk mengamati hal-hal yang dekat dan penting bagi kita Sang Buddha selalu berusaha untuk menyederhanakan ajarannya sehingga kita bisa meninggalkan kebiasaan kita didalam menerima dan dengan mudah mempercayai hal-hal yang terlihat superior.

Kebiasaan kita adalah bahwa kita cenderung untuk melihat seolah-olah semua hal-hal yang ada sifatnya kekal. Manusia menciptakan istilah Tuhan dan langit, yang dikatakan kekal dan akan menjadi hadiah bagi mereka yang mengikuti-istilah disebut Tuhan. Kita bisa menjadi sangat tertekan untuk menemukan hakikat kehidupan yakni ketidakkekalan dan perubahan. Oleh karena itu, kita menciptakan Tuhan dalam imajinasi kita untuk menghibur diri kita sendiri.

Sangat mudah bagi kita untuk melihat bahwa terjadi perubahan pada hal-hal disekeliling kita. Lihatlah foto-foto kita sendiri pada surat izin mengemudi dan paspor selama bertahun-tahun. Secara fisik kita tidak tetap sama tetapi telah berubah. Lalu bagaimana dengan keadaan mental? Cobalah menutup mata Anda dan mencoba untuk melihat bagaimana pikiran Anda bekerja. Pusatkan pikiran Anda pada sebuah lubang hidung, objek tertentu atau pada setiap objek pilihan Anda. Anda akan melihat seberapa cepat objek tersebut berubah, jauh lebih cepat daripada perubahan pada  keadaan fisik kita. Kita merasa bahagia dan kemudian sekarang kitamerasa sedih. Kita melihat hal-hal di masa lalu melalui pikiran kita. Sementara duduk dan mendengarkan ceramah Dhamma, pikiran kita sering pergi ke tempat lain, mungkin ke tempat kerja, teman rumah, supermarket atau bahkan perjalanan keluar negeri. Objek yang berbeda dan perasaan yang berlainan timbul dan tenggelam terus menerus.

Namun demikian, sampai kita menjadi lemah dan membusuk, kita hanya tidak ingin menerima bahwa perubahan terjadi pada tubuh kita sepanjang waktu karena kita takut untuk mengakui bahwa kita mungkin telah menjadi kurang dan kurang indah. Daripada menerima hukum alam seperti itu, kita cenderung untuk tinggal didalam ilusi kita sendiri dan bertindak seakan-akan bahwa segala sesuatu tidak berubah dan kekal adanya.

Kemungkinan Adanya Kesalahpahaman Didalam Mengartikan Perubahan.

Seringkali kita menerimanya tanpa benar-benar mencerminkan apa artinya yang terkandung sesungguhnya. Orang sering mengatakan, "Oh ini adalah Anicca, ketidakkekalan" ketika sesuatu berjalan salah. Ini adalah refleksi yang baik. Tetapi kadang-kadang ini adalah bentuk penghiburan untuk sebuah kejadian buruk yang terjadi daripada melihat segala sesuatu sebagaimana mestinya. Mengapa? Karena kebanyakan orang merenungkan Anicca, ketidakkekalan, hanya pada kesempatan menyakitkan. Mereka tidak pernah memikirkannya pada saat-saat bahagia, mereka hanya lupa ketidakkekalan selama masa muda mereka, mereka cenderung untuk menerapkan ini hanya pada saat-saat kesedihan muncul, kegagalan, kekecewaan, dan penderitaan. Ketika anda kehilangan sesuatu, anda memikirkan Anicca. Ini merupakan awal yang baik.

Namun, ini masih belum mencerminkan pemahaman yang komprehensif dari ketidakkekalan. Ketidakkekalan juga berlaku untuk kondisi saat moment-moment bahagia muncul. Jika bukan karena "ketidakkekalan" atau "perubahan" kita tidak akan mampu membuat orang bodoh menjadi bijak, kita tidak akan berjuang untuk membebaskan diri kita dari kemiskinan, kebodohan dan penderitaan. Kita bisa membebaskan diri dari kondisi-kondisi mengerikan tersebut karena kita bisa membuat perubahan akan hal-hal disekitar kita. Kita dapat mencapai tujuan kita karena sifat perubahan yang terjadi di mana-mana dan kapan saja. Budak telah memenangkan kembali martabat dan kebebasan di Amerika Serikat. Inggris telah mampu keluar dari kelaparan yang dihadapi selama abad ke-16. Seorang pria yang sehat bisa jatuh sakit sementara pada saat yang sama orang yang sakit bisa sembuh. Ini hanyalah beberapa contoh akan Perubahan (Anicca) yang terus berlangsung.

Perubahan dapat membawa kita suatu dorongan atau suatu halangan. Perubahan juga dapat menciptakan kebahagiaan atau kesedihan; memberi kita sukacita atau kecemasan. Dalam kasus apapun, perubahan adalah perubahan. Ini adalah kenyataan. Inilah yang seharusnya dimanfaatkan setiap manusia sebagai individu serta masyarakat dan bangsa untuk membuat penggunaan terbaik kebijaksanaan mereka, daya nalar, dan kecerdasan untuk mencapai perubahan ke arah yang lebih baik dan untuk menghindari hal-hal lebih buruk.

Ingatlah pengamatan asli dari Sang Buddha: "Komponen seperti mental dan pikirian memiliki sifat alami mengenai timbul dan tenggelam" Sang Buddha menggunakan bentuk jamak untuk mencakup sifat: sifat menjadi dan sifat berhenti, sifat positif maupun yang negatifJika kita hanya berfokus pada penderitaan atau sisi negatif dari  hukum alam ini, kita dapat menemukan diri kita kecewa dan tinggal di sisi pesimis  dari kehidupan ini saja.

Jika kita lupa pada kedua hal tersebut, tentunya kita sama sekali tidak akan siap untuk hal-hal buruk yang akan timbul tetapi hanya menaruh harapan hanya untuk hal-hal yang baik. Dengan menunjukkan kedua sisi dari hukum ketidakkekalan, dengan membuat kita menyadari kedua kemungkinan fakta-fakta kehidupan, Sang Buddha telah membawa kita ke dunia yang realistis. Aggamahapandita Dr Walpola Rahula mengatakan dalam bukunya "Apa yang Sang Buddha ajarkan adalah": Ajaran Buddha bukanlah mengajarkan mengenai hal-hal yang pesimis atau optimis tetapi mengajakan realistis, memandang segala sesuatu dengan mempertimbangkan situasi dari semua sudut yang berbeda.

 

Perubahan Pada Filsafat modern.

Para ilmuwan mengatakan bahwa agama seringkali menentang adanya perubahan. Pada abad ke-18, menurut pengamatan oleh sosiolog Inggris seperti Stephen Moore, G****a K*****k di Eropa adalah hambatan bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Mereka berargumen bahwa perubahan akan menghancurkan tatanan sosial yang diciptakan oleh Allah.

Tapi Bertrand Russell dalam bukunya 'Outline of Philosophy'  mengatakan "gagasan mengenai substansi/unsur dalam pengertian badan yang permanen dengan melakukan perubahan kondisi tidak lagi  dapat diterapkan bagi dunia: Gelombang di laut berlangsung selama kurun waktu yang lebih lama atau lebih pendek: gelombang yang saya menghempas di pantai Cornish mungkin telah datang jauh-jauh dari Brasil, tetapi itu tidak berarti bahwa "sesuatu" telah melakukan perjalanan melintasi Atlantik, hanya berarti bahwa suatu proses perubahan tertentu telah melakukan perjalanan."

Sang Buddha menjelaskan hidup berubah sepanjang waktu. Hidup hanyalah sebuah fluks sebab dan akibat yang terus menerus berubah. Dia menggunakan kata “nadisotoviya”, yang berarti sebuah sungai yang mengalir. Sungai tersebut mengalir  terus menerus sehingga sulit bagi kita untuk melihat dan menyadari adanya suatu jeda.

Bertrand Russell juga setuju dengan pengamatan Sang Buddha ketika dia menggunakan nama yang sama untuk penemuan yang sama dalam penelitiannya. Ia mengatakan segala sesuatu di dunia ini terdiri dari "kejadian." Kejadian tersebut tidak dapat jabarkan sebagaimana kejadian tersebut seharusnya, sebaliknya, setiap peristiwa dalam ruang-waktu sebenarnya bertumpang tindih dengan peristiwa lainnya.

Sang Buddha mengatakan hal-hal seperti mental dan fisik adalah tidak kekal. Mereka muncul dan tenggelam, membuat suatu hasil yang baru untuk kemudian berulang kembali. Ilmu pengetahuan telah menemukan bahwa dalam satu hari, miliaran sel baru menggantikan yang lama secara terus menerus. Kulit kita juga berproses demikian.

Sebenarnya Heraclitus (6 SM), seorang Filsuf Yunani, adalah penulis barat pertama yang berbicara tentang sifat alami fluida. Dia berkata, "Tidak ada yang statis, tidak ada dasar yang tidak berubah". Perubahan, gerakan adalah hal yang mendasar di Alam Semesta." Dia melihat perubahan sebagai sistem yang menghubungkan segala sesuatu hal. Sangat mirip dengan apa yang Buddha katakan: Semua komponen kehidupan mengalami perubahan.

Heraclitus membandingkan hidup bagaikan aliran sungai ketika ia berkata: Semua orang-orang yang menginjak sungai yang sama selalu berbeda dan menghasilkan aliran air yang berbeda mengalir ke bawah. Plato kemudian mengambil doktrin ini sebagai pengertian bahwa segala sesuatu berada dalam fluks yang konstan, terlepas bagaimana mereka muncul ke  dalam indra kita.

Dalam ajaran Buddha, untuk memahami karakteristik ketidakkekalan di  dunia merupakan hal yang sangat penting. "Yam kinci samudaya Dhammam sabbam tam nirodha Dhammam " (Segala sesuatu yang memiliki sifat untuk timbul juga memiliki sifat untuk lenyap). Ini adalah ucapan umum oleh para bhikkhu. Di dalamnya, kita dapat menemukan pengamatan dari sifat sejati dunia ini.

 

Disadur dari : http://web.ukonline.co.uk/buddhism/page6.htm

 

Last Updated on Sunday, 10 October 2010 13:40
 

Comments  

 
0 # RE: Anicca (ketidakkekalan)jony wijaya 2010-09-28 16:20
bagi temen-temen yang berminat memberikan masukan. ditunggu untuk komentarnya ya..
kita saling sharing dan sama-sama belajar.

anumodana _/\_
 
 
0 # RE: RE: Anicca (ketidakkekalan)Budianto Hui 2010-09-28 17:49
sudah bagus Joni.. :)
 
 
0 # Good 2012-03-19 23:12
 
 
0 # RE: Anicca (ketidakkekalan) 2012-03-19 23:50
 

anda tidak diperbolehkan posting

free counters
dscn3537.jpg
We have 16 guests online

Powered By Joomla! Developed By Butos. Designed by: ThemZa videos ntc hosting Valid XHTML and CSS.